Wednesday, October 17, 2018

Macam-Macam Bunyi Beep Sebagai Peringatan Kerusakan Pada Komputer

Untuk mengetahui jenis kerusakan atau permasalahan yang sering terjadi pada komputer ketika dinyalakan, dapat dikenali melalui bunyi beep yang muncul pada speaker mainboard pada saat pertama kali komputer dihidupkan.

Dengan mengenal bunyi beep pada tiap motherboard kita dapat mengetahui keruksakan atau masalah pada motherboard kita.
Mainboard dengan BIOS Award dan BIOS Phoenix :
  • Bunyi beep pendek 1 kali : Sistem Normal.
  • Bunyi beep pendek 2 kali : Kerusakan/kesalahan pada CMOS.

Wednesday, January 20, 2016

Cacti installation guide

Cacti installation guide
Don't use this, it's very incomplete and outdated, use the community documentation
- http://www.cacti.net/downloads/docs/html/install_windows.html

Cacti 0.8.8 community documentation windows manual
Use this, it's the most comprehensive manual. It's not specified for what Windows version this manual is intended. It's quite good, but there are a lot of pitfalls, documented in this HOWTO. But use it as the main guideline, i've not duplicated all steps in this HOWTO, just additions/changes to the community manual.
- http://docs.cacti.net/manual:088:1_installation.2_install_windows#installing_under_windows
○ Don't use the "next page" buttons, they do not follow the correct page-order. Use the links in the overview page and go from 1 to 8.

Tuesday, January 19, 2016

Graphing Mikrotik Queue Simple and Queue Tree with Cacti

It’s not the first time tutorial about graphing mikrotik queue simple with cacti, you can saw many tutorial about it.  I just republish, howto we use this on your cacti server monitoring. before, I was read that tutorial at forum.cacti.net, and they publish some script cacti for graphing mikrotik queue.

A. Graphing Mikrotik Queue Simple/Tree with Cacti
  1. if using Queue Simple, you have to download this files : cacti-mikrotik-queue-simple.zip
  2. if using Queue Tree, you have to download this files : cacti-mikrotik-queue-tree.zip
  3. you will see this files in your extract directory :

[How To] Graphing Simple Queue Using Cacti


 by tjdykb » Sun Feb 11, 2007 1:03 pm
I've searched the forum and the internet for tutorial on how to capture Router OS's simple queue OID using cacti, and haven't find any luck.. 

So I decided to share my really simple way, by capturing each OID manually for every entry in Simple Queue I want to graph.. 

Tuesday, December 15, 2015

[Panduan Pemula] Cara Memblokir Situs Tanpa Aplikasi di Windows 7

Memblokir situs tertentu pastinya dilakukan bukan tanpa alasan. Tindakan ini lumrah dilakukan oleh orang tua yang ingin menjauhkan anaknya dari situs-situs yang mengandung konten berbahaya.
Untuk memblokir situs-situs berbahaya biasanya dilakukan dengan menggunakan aplikasi, tapi ada satu cara yang kegunaannya sama tapi tidak perlu aplikasi. Cara ini juga dapat diubah sesuai keinginan, bersifat permanen dan tidak perlu ribet mengunduh serta memasang aplikasi terlebih dahulu. Mau tahu? Oke, lanjut ya.

Monday, October 27, 2008

CERITA BARU TENTANG KURA-KURA DAN KANCIL


Suatu hari Kura-kura dan Kancil berdebat tentang siapa yang lebih cepat. Mereka menyetujui jalur tertentu untuk bertanding dan mulailah mereka bertanding. Sang Kancil melesat dengan cepat dan setelah merasa jauh melampaui Kura-kura dia berhenti sejenak di bawah pohon untuk beristirahat sebelum memulai lagi perlombaannya.
Sang Kancil terduduk di bawah pohon dan akhirnya tertidur. Dan Kura-kura berhasil melampauinya dan keluar sebagai juara. Sang Kancil terbangun dan mendapatkan dirinya kalah dalam perlombaan tersebut.
Maksud dari cerita ini adalah mereka yang lambat, apabila konsisten, akan dapat memenangkan pertandingan.
Ini adalah cerita yang biasa kita dengar sejak masa kecil. Baru-baru ini seseorang bercerita versi baru yang lebih menarik. Rupanya ceritanya bersambung.

Sunday, July 20, 2008

Buatlah Kopimu Sendiri: Tips Tenang di Tempat Kerja

Selasa, 22 Januari 2008 - 16:48 WIB
Dalam menyelesaikan pekerjaan kantor sehari-hari, ketenangan merupakan faktor kunci yang harus selalu diupayakan ada dalam diri setiap karyawan. Bagaimana bisa bekerja dengan baik bila diri berada dalam kondisi yang tidak tenang? Ketenangan pada diri seseorang tentu saja tidak hanya menyangkut ketenangan batin tapi ketenangan fisik juga tak kalah penting.

Banyak karyawan yang sebelum memasuki kantor sudah was-was duluan. Hati deg-degan, jantung berdebar-debar dan perasaan seperti diburu-buru. Seperti ada yang mengejar-ngejar dari belakang dan itu membuat orang jadi panik. Lebih-lebih, kalau sejak di perjalanan sudah ditelepon oleh bos dan diingatkan bahwa hari ini akan ada meeting penting dengan klien. Atau, misalnya hari ini adalah jadwal Anda untuk presentasi memperebutkan tender tertentu, maka sebelum sampai di kantor pun rasanya "kemrungsung", ada kekhawatiran akan gagal dan sebagainya sehingga mengganggu keseimbangan psikis dan fisik.

Monday, June 30, 2008

Mendidik Anak dalam Keprihatinan

sumber: http://adijm.multiply.com/journal/item/304/Mendidik_Anak_dalam_Keprihatinan

Diantara ujian bagi orang tua dalam pendidikan anak adalah pada sikap:" Cukuplah saya dulu yang hidup prihatin. Anak-anak kalau bisa tidak usah mengalami kesulitan sebagaimana saya alami." Sikap ini amat terkait erat dengan rasa kasih sayang orang tua kepada anak, yang memang Allah tetapkan pada fitrahnya.

Lalu apakah orang tua harus bersikap hemat dan melakukan rekayasa tertentu agar anak-anak mengalami kesulitan dalam proses pendidikannya? Saya yakin akan sulit bagi orang tua melakukan tindakan seperti ini. Apalagi kalau kondisi ekonomi keluarga relatif baik, tentulah orang tua akan memberikan fasilitas terbaik bagi anak-anak. Kecenderungan yang ada orang tua bahkan akan melakukan berbagai usaha agar anaknya hidup dalam kenyamanan dan kecukupan.

Obrolan Para Ayah tentang Pendidikan Anak Perempuan

sumber: http://adijm.multiply.com/journal/item/303/Obrolan_Para_Ayah_tentang_Pendidikan_Anak_Perempuan

Obrolan semalam cukup unik. Para ayah -termasuk saya di dalamnya- sedang agak mumet mengikuti perkembangan pendidikan anak-anak perempuan mereka yang menginjak remaja di masa-masa SMP. Supaya konteks tulisan ini tergambar jelas, saya akan mulai tulisan ini dari latar belakang pilihan pendidikan untuk anak.

Seiring kesadaran kami untuk menghantarkan anak-anak mereka pada suatu sistem pendidikan yang islami, anak-anak pun disekolahkan pada pondok-pondok pesantren; Istilah lainnya: Islamic Bording School. Pada prakteknya tentu sebagai orang tua, kami tidak memaksakan kehendak kepada anak-anak. Bahkan dalam banyak kasus, pilihan masuk pondok itu didasarkan pada keinginan anak. Meskipun dilanda kebimbangan, karena akan terpisah jauh dari anak, kami pun dengan senang hati mendorong dan mendukung mereka untuk menempuh pendidikan di pondok.

Suasana pondok sendiri bagi sebagian kami bukan suasana yang kami kenal langsung. Sebagian kami malahan memiliki latar belakang pendidikan yang normal-normal saja berdasarkan kurikulum nasional, yang belakangan kami rasakan memang miskin dari penekanan masalah akhlak dan keagamaan. Sebagian kami juga malah melanjutkan pendidikan tinggi di negara-negara yang menganut faham sekuler, apakah itu negara-negara Barat atau negara Asia, seperti Jepang.

Kami menaruh kepercayaan mengirimkan anak-anak ke pondok atas dasar kepercayaan pada konsep pendidikan yang ditawarkan dan juga pengenalan personal kepada para pembina (para ustadz dan ustadzah). Ya, kami memang secara langsung dan tak langsung ikut serta mendorong lahirnya sistem pendidikan yang memadukan kejernihan ajaran-ajaran agama dan kemajuan capaian-capaian peradaban modern. Para ustadz dan ustadzah kami hargai dan hormati sebagai pendidik yang berkompeten dalam masalah keagamaan.

Kami percaya bahwa lingkungan pondok kondusif untuk menumbuhkan akhlak dan pemikiran mulia berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam. Mereka terbiasa sholat berjamaah, mereka terbiasa melakukan shaum sunnah, dan mereka pun didorong untuk memiliki kualitas memadai dalam membaca dan menghafal Quran. Mereka dilatih untuk memiliki keterampilan berbahasa Arab dan Inggris, mempelajari ilmu-ilmu aqidah, hadits, akhlak dll. Mereka juga difasilitasi mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler olah raga, jurnalistik, dll.

Di sisi lain pengajaran ilmu-ilmu pasti alam dan sosial di pondok disampaikan oleh para guru yang juga memiliki kompetensi bagus. Mereka lulusan kampus-kampus pendidikan, pertanian dan juga kampus-kampus tehnik ternama. Pondok juga secara aktif mengirimkan para santri pada perlombaan dan olimpiade matematika, IPA ataupun IPS.

Kami sadar masih perlu peningkatan kualitas pondok pada pengajaran keilmuan IPA atau IPS. Para pengurus pondok pun cukup sering meminta dukungan para orang tua yang ber-background pendidikan ilmu-ilmu modern. Kami tentu punya obsesi agar lulusan pondok tidak hanya bersaing untuk masuk universitas-universitas syariah di dalam dan luar negeri, tapi juga berdaya saing tinggi untuk memasuki universitas-universitas ilmu-ilmu alam dan sosial di dalam dan luar negeri. Ini memang butuh perjuangan sungguh-sungguh para pengelola pondok dan dukungan optimal para orang tua santri.

***

Lalu ada apa dengan pendidikan anak perempuan di pondok? Ternyata yang mencuat dalam obrolan adalah masalah akhlak dan masalah kebetahan mereka di pondok.

Kami agak kaget dengan "perubahan" perilaku anak-anak gadis kami yang dalam beberapa hal tidak seperti yang kami harapkan. Dalam masalah ketaatan beribadah, anak-anak ternyata tidak "sehebat" ketika mereka di pondok. Dalam masalah kesopanan, kadang terlihat mereka agak cuek terhadap orang tua. Tidak jarang mereka terlibat semacam pertengkaran kecil dengan ibu mereka. Dalam pola komunikasi (lewat telepon, sms dll), mereka gunakan bahasa-bahasa gaul. Mereka juga ngobrol tentang lawan jenis, meskipun sepertinya mereka hati-hati sekali ngobrol tentang ini di depan orang tua. Dan satu lagi, terkadang mereka merasa "terbuang" dengan menjadi santri pondok. Apalagi ketika mereka mendapati keluarga besar mereka dari pihak ayah dan ibu (seperti nenek, tante, dll), kebanyakan mempertanyakan kenapa mereka mesti mondok. Walaupun pertanyaan-pertanyaan keluarga besar ini didasarkan pada rasa sayang, tapi buat seorang anak hal ini membuat bimbang, apakah mereka betul-betul di-support oleh saudara-saudara mereka?

Pada paragraf di atas, sengaja saya beri tanda kuot pada kata perubahan, sebab bisa jadi kami lah yang memang tidak intensif mengikuti perubahan mereka. Dan memang inilah yang sementara ini kami simpulkan.

Kami mesti menyadari bahwa anak-anak kami sedang mengikuti proses pendidikan yang unik pada zamannya. Mereka memang "berbeda" dengan remaja pada umumnya yang mengalami pergaulan relatif bebas dengan lawan jenis atau bahkan berpacaran, tidak dibebani berbagai pelajaran keagamaan intensif seperti hafalan Quran, bahasa Arab, aqidah dll, bebas punya hand-phone -oh ini baru kami sadari merupakan masalah penting buat anak pondok yang memang enggak boleh pegang hand-phone, karena alasan yang bisa kami terima-, bisa santai memelototi tayangan-tayangan teve seperti acara musik, infotainment alias gosip-gosip selebritis dll ... dll.

Kami mesti menyadari bahwa mereka berada pada masa pubertas. Mereka sedang mencari jatidiri, misalnya yang cukup dominan melalui kesan kepada/dari lawan jenis. Mereka menduga-duga ... hmm asyiknya kalau aku bebas hidup seperti mereka-mereka yang tidak di pondok. Mereka memang tidak merasakan itu, maka mereka tidak tahu apa untung ruginya berada dalam dunia yang tidak mereka kenal.

Lalu bagaimana kami mesti bersikap? Saya sendiri menawarkan pola komunikasi sebagai teman dengan mereka. Sebagai orang tua, kami mesti mau nonton bareng sinetron-sinetron SMA di teve (meskipun terus terang kami susah untuk berapresiasi dengan tayanga-tayangan itu). Sesekali lihat tayangan infotainment. Kalau anak kita senang baca novel "teenlit", tak apalah kita ikuti kemauannya. Istri saya pernah bilang, biarlah anak kami mengeksplorasi kehidupan luar pondok lewat bacaan-bacaannya. Yang penting kami bisa terus berdialog dengannya dan menyampaikan nilai-nilai kebenaran dalam bahasa yang bisa diterima dan dicerna anak remaja.

Saya pernah sarankan anak kami agar dia membaca-baca tentang peri kehidupan sahabat Nabi. Anak kami menjawab, bahwa di pondok itu jadi pelajaran. Para santri malah membaca langsung kitab Hayatush Shahabah. Malahan sifat-sifat fisik para shahabat pun dipelajari hingga detil-detilnya. Mendengar hal itu, saya bisa maklumi kalau di masa-masa liburan anak kami ingin suasana bacaan yang berbeda.

Saya memang berharap banyak kepada istri agar bisa memandu perkembangan anak kami yang menginjak usia remaja ini. Peran sebagai ibu mesti diperkaya juga dengan peran sebagai sahabat. Pada beberapa kesempatan saya dan istri bercerita pengalaman melewati masa-masa remaja dulu. Anak kami nampaknya menikmati cerita-cerita itu. Dia bisa tertawa lepas dan terlibat dalam obrolan. Sejauh ini lewat peran sebagai sahabatlah obrolan-obrolan menyangkut kepribadian dan jatidiri bisa mengalir lumayan lancar.

***

Masih ada PR kami sebagai orang tua. Terus berdialog dengan para pengasuh pondok. Kami jelas tidak boleh "melepas tanggung jawab" pendidikan anak kepada pihak pondok. Bagaimanapun pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua. Yang kami lakukan adalah memberi mandat kepada para ustadz dan ustadzah untuk mendidikan mereka pada bagian-bagian yang memang kami sendiri tak mampu memberikannya. Artinya kami mesti terus berkomunikasi intensif dan secara berkala bertemu dengan anak-anak untuk melengkapi kebutuhan pendidikan mereka.

Kami mesti terus berdialog dengan anak-anak, terus membina keyakinan bersama, bahwa pilihan sekolah di pondok itu adalah sebuah pilihan yang diambil secara sadar. Kami juga mesti meyakinkan diri, bahwa kualitas pendidikan di pondok akan melahirkan manusia-manusia berkualitas, siap untuk melanjutkan pendidikan berkualitas pada jenjang yang lebih tinggi dan berdarma bakti bagi masyarakat.

Dan permasalahan anak-anak remaja perempuan kami adalah permasalahan alami pada manusia di masa remaja, di masa pubertas, di masa awal menuju kedewasaan mereka. Kami mesti terus memandu mereka, agar terbangun identitas diri yang kokoh. Agar mereka melangkah mantap menyongsong masa depan mereka.

Dan hanya kepada Allah lah, kami para orang tua, mesti memohon pertolongan dan petunjuk dalam mendidik anak-anak kami. Kami pun sadar banyak sekali kekurangan dan kekeliruan kami dalam mengambil keputusan dan bersikap pada pendidikan anak-anak kami. Karenanya kami memohon ampunan kepada Allah untuk semua kesalahan kami. Semoga Dia Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, mengganti kesalahan kami dalam bentuk bimbingan langsung kepada anak-anak kami. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Itulah sekelumit obrolan kami, para ayah, tentang pendidikan putri-putri kami. Ini tentu hanya satu potret sosial, pada lingkungan sosial tertentu pula. Tapi saya yakin seorang ayah pasti akan mengalami masa-masa lumayan pelik dalam berinteraksi dengan anak-anak perempuannya, terutama di masa remaja. Semoga tulisan ini menjadi sharing yang bemanfaat.

Bogor, 5 Juni 2008,
Adi Junjunan Mustafa