sumber: http://adijm.multiply.com/journal/item/304/Mendidik_Anak_dalam_Keprihatinan
Diantara ujian bagi orang tua dalam pendidikan anak adalah pada sikap:" Cukuplah saya dulu yang hidup prihatin. Anak-anak kalau bisa tidak usah mengalami kesulitan sebagaimana saya alami." Sikap ini amat terkait erat dengan rasa kasih sayang orang tua kepada anak, yang memang Allah tetapkan pada fitrahnya.
Lalu apakah orang tua harus bersikap hemat dan melakukan rekayasa tertentu agar anak-anak mengalami kesulitan dalam proses pendidikannya? Saya yakin akan sulit bagi orang tua melakukan tindakan seperti ini. Apalagi kalau kondisi ekonomi keluarga relatif baik, tentulah orang tua akan memberikan fasilitas terbaik bagi anak-anak. Kecenderungan yang ada orang tua bahkan akan melakukan berbagai usaha agar anaknya hidup dalam kenyamanan dan kecukupan.
Yang saya alami dan amati, kondisi tertentulah yang membawa seorang anak ada pada kesulitan, yang membuat jiwa mereka tertempa mengatasi masalah kehidupan. Dalam kondisi sulit seperti ini, bahkan orang tua pun berada dalam kondisi tidak dapat melakukan apapun kecuali berdoa dan bertawakkal kepada Allah swt. Orang tua dapat membantu anak dengan menguatkan jiwa mereka dalam menghadapi kesulitan hidup.
Dalam buku Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab ada penggalan kisah keprihatinan Imam Ahmad bin Hambal. Ia menjadi anak yatim sejak kecil, sehingga hanya ibunya yang membesarkannya di masa kanak-kanak. Suasana prihatin menyertai dirinya saat menempuh pendidikan di Bagdad, ibukota negeri Islam saat itu. Setelah belajar pada para ilmuwan di Bagdad, pada usia 16 tahun Imam Ahmad pergi ke Yaman untuk menempuh ilmu. Di perjalanan bekalnya habis. Ia pun kemudian bekerja sebagai pelayan sebuah kafilah dagang. Dengan begitu ia bisa sampai ke Yaman.
Di Yaman pun diriwayatkan ia terus bekerja "part time" selama menempuh pendidikan. Ia tetap menjadi murid paling cemerlang. Tidak sedikit di antara gurunya yang menawarkan bantuan finansial kepadanya. Akan tetapi jiwanya yang teguh menjawab tawaran ini dengan ucapannya yang senantiasa dikenang, "Terima kasih. Aku dalam kebaikan."
Dalam buku 50 Tahun Habibie, mantan menristek di masa pemerintahan Presiden Soeharto, ada sepenggal kisah tulisan Ibu Ainun, istri Prof. Habibie. Bu Ainun bercerita, bahwa Habibie menikahinya segera setelah lulus insinyur (Dipl.-Ing). Saat itu, Habibie melanjutkan sekolah doktor. Di samping sekolah ia mesti bekerja pada sebuah pabrik kereta demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Jadi ia datang ke kampus dan sekaligus bekerja seharian. Seringkali ia bekerja sampai malam hari. Karena keterbatasan biaya, ia tidak jarang pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Padahal rumahnya berjarak sekitar 10 km dari tempatnya bekerja. Rumahnya memang terletak di pedesaan (rural area), di mana ongkos sewanya agak murah dibandingkan di kota.
Membaca kisah-kisah di atas membuat saya yakin bahwa keprihatinan itu bukan "nasib sial". Bahkan bisa jadi ia menjadi tadbir Rabbani, rekayasa Allah swt, untuk menempa orang-orang maraih kesuksesan.
Sementara itu saya melihat anak-anak zaman sekarang agak dimanjakan dengan keadaan yang ada. Saya masih ingat, pada tahun 80-an, di kota Kuningan tempat saya jalani pendidikan SMP dan SMA, anak-anak sekolah berjalan kaki untuk pergi dan pulang bersekolah. Jarak rumah saya sendiri sekitar dua setengah kilometer ke sekolah. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 6:15, sehingga bisa sampai sebelum jam 7:00. Saat ini saya perhatikan tak ada lagi kebiasaan itu. Anak-anak pergi dan pulang sekolah dengan angkot atau naik motor. Bahkan untuk menempuh jarak sekitar 700 meter dari gerbang pintu perumahan ke depan rumah pun, banyak anak-anak yang menggunakan jasa ojeg ...!
Saya tinggal bersama nenek dan kakek. Sebagai seorang pelajar, saya tentu perlu meja belajar. Waktu saya sampaikan ke nenek, ia mengatakan saya bisa memakai salah satu meja di dapur. Saya tahu yang nenek maksud adalah sebuah meja sederhana, yang kadang dipakai untuk menyimpan bumbu atau peralatan dapur. Saya pun mengambil meja itu. Kemudian untuk membuat meja menjadi nyaman digunakan, saya membeli semacam kertas kado polos berwarna hijau. Saya tutupi meja dengan kertas hijau itu. Saya tulisi kertas itu dengan beberapa moto dan visi pembawa semangat. Lalu saya lapisi dengan plastik transparan di atasnya. Itulah meja belajar yang menemani masa-masa SMP dan SMA saya.
Nenek dan kakek punya halaman di sekeliling rumah yang cukup luas. Pada halaman itu ditanami pohon cengkih. Sebagai kombinasi olah raga dan latihan bela diri silat, menyapu halaman dan menyirami pohon cengkih dengan air kolam menjadi bagian dari pag-pagi hari Ahad. Dengan senang hati pada hari Ahad saya pun mengantar nenek ke pasar, membantu membawakan belanjaan. Atau di rumah, mengepel menjadi waktu-waktu yang saya lalui sebagai tugas rutin.
Tentu saja ada kondisi-kondisi indah yang saya dapatkan. Nenek selalu menyiapkan sarapan dan makanan lezat. Rumah yang dekat tajug atau surau, membuat saya dapat melaksanakan sholat berjamaah dengan rutin dan juga belajar mengaji di dalamnya. Pengalaman masa remaja seperti ini akan selalu dikenang dalam hidup saya.
Cerita-cerita di atas saya sampaikan kepada anak-anak dalam suasana santai. Saya sangat berharap anak-anak mendapatkan sebuah gambaran kehidupan yang seimbang dalam menjalani proses pendidikan.
Saat ini anak-anak semakin sulit memperoleh informasi dan kondisi yang membuat jiwa mereka tertempa. Terlalu banyak arus informasi yang membuat anak-anak hanya membayangkan kesenangan. Apa yang mereka ketahui seolah hanyalah "bagaimana menikmati hidup". Kehidupan glamour yang tertayang di televisi, di mall-mall, di tempat-tempat hiburan, seolah membius mereka. Mereka pun menghadapi kesulitan hidup sebagai sebuah keterpurukan dan kesedihan yang parah.
Saya pernah mendapat cerita seorang kawan, kalau anak-anaknya susah hidup di pesantren, sebab enggak betah dengan kondisi kamar mandi dan WC-nya. Saya juga mendengar ada seorang anak yang kebingungan mau pergi bersama teman-temannya, kalau enggak memegang uang minimal lima puluh ribu rupiah.
Kita sebagai orang tua, terutama yang hidup di perkotaan, memang menghadapi ujian yang lumayan berat dalam memandu perkembangan kejiwaan anak-anak. Mereka hidup dalam lingkungan yang mengajarkan amusement dan cenderung hedonis. Jiwa anak-anak tidak pernah atau sangat sedikit mengalami kondisi pedih. Karenanya jiwa mereka rapuh dan cepat menyerah ketika menghadapi tantangan hidup.
Pada kondisi tantangan di atas, saya pribadi memaknai kondisi sulit yang dialami dalam kehidupan sebagai sebuah kesempatan untuk memberi warna keprihatinan dalam pendidikan anak-anak. Tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi orang tua, agar kesempatan ini menjadi sesuatu yang positif. Syarat itu adalah menyertai kondisi ini dengan dialog dan obrolan dengan anak-anak. Kondisi sulit jangan sampai membuat anak-anak jadi lemah jiwanya apalagi sampai pesimis menjalani kehidupan. Kondisi sulit justru mesti digunakan untuk menyiapkan mereka untuk memiliki keteguhan hati dan kekuatan jiwa. Mendidik mereka untuk terus berusaha dan memohon bantuan Allah. Bukankah beserta kesulitan ada sebuah kemudahan? Sungguh beserta kesulitan ada kemudahan lainnya!
Bogor, 9 Juni 2008,
Adi Junjunan Mustafa.
No comments:
Post a Comment