Monday, June 30, 2008

Obrolan Para Ayah tentang Pendidikan Anak Perempuan

sumber: http://adijm.multiply.com/journal/item/303/Obrolan_Para_Ayah_tentang_Pendidikan_Anak_Perempuan

Obrolan semalam cukup unik. Para ayah -termasuk saya di dalamnya- sedang agak mumet mengikuti perkembangan pendidikan anak-anak perempuan mereka yang menginjak remaja di masa-masa SMP. Supaya konteks tulisan ini tergambar jelas, saya akan mulai tulisan ini dari latar belakang pilihan pendidikan untuk anak.

Seiring kesadaran kami untuk menghantarkan anak-anak mereka pada suatu sistem pendidikan yang islami, anak-anak pun disekolahkan pada pondok-pondok pesantren; Istilah lainnya: Islamic Bording School. Pada prakteknya tentu sebagai orang tua, kami tidak memaksakan kehendak kepada anak-anak. Bahkan dalam banyak kasus, pilihan masuk pondok itu didasarkan pada keinginan anak. Meskipun dilanda kebimbangan, karena akan terpisah jauh dari anak, kami pun dengan senang hati mendorong dan mendukung mereka untuk menempuh pendidikan di pondok.

Suasana pondok sendiri bagi sebagian kami bukan suasana yang kami kenal langsung. Sebagian kami malahan memiliki latar belakang pendidikan yang normal-normal saja berdasarkan kurikulum nasional, yang belakangan kami rasakan memang miskin dari penekanan masalah akhlak dan keagamaan. Sebagian kami juga malah melanjutkan pendidikan tinggi di negara-negara yang menganut faham sekuler, apakah itu negara-negara Barat atau negara Asia, seperti Jepang.

Kami menaruh kepercayaan mengirimkan anak-anak ke pondok atas dasar kepercayaan pada konsep pendidikan yang ditawarkan dan juga pengenalan personal kepada para pembina (para ustadz dan ustadzah). Ya, kami memang secara langsung dan tak langsung ikut serta mendorong lahirnya sistem pendidikan yang memadukan kejernihan ajaran-ajaran agama dan kemajuan capaian-capaian peradaban modern. Para ustadz dan ustadzah kami hargai dan hormati sebagai pendidik yang berkompeten dalam masalah keagamaan.

Kami percaya bahwa lingkungan pondok kondusif untuk menumbuhkan akhlak dan pemikiran mulia berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam. Mereka terbiasa sholat berjamaah, mereka terbiasa melakukan shaum sunnah, dan mereka pun didorong untuk memiliki kualitas memadai dalam membaca dan menghafal Quran. Mereka dilatih untuk memiliki keterampilan berbahasa Arab dan Inggris, mempelajari ilmu-ilmu aqidah, hadits, akhlak dll. Mereka juga difasilitasi mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler olah raga, jurnalistik, dll.

Di sisi lain pengajaran ilmu-ilmu pasti alam dan sosial di pondok disampaikan oleh para guru yang juga memiliki kompetensi bagus. Mereka lulusan kampus-kampus pendidikan, pertanian dan juga kampus-kampus tehnik ternama. Pondok juga secara aktif mengirimkan para santri pada perlombaan dan olimpiade matematika, IPA ataupun IPS.

Kami sadar masih perlu peningkatan kualitas pondok pada pengajaran keilmuan IPA atau IPS. Para pengurus pondok pun cukup sering meminta dukungan para orang tua yang ber-background pendidikan ilmu-ilmu modern. Kami tentu punya obsesi agar lulusan pondok tidak hanya bersaing untuk masuk universitas-universitas syariah di dalam dan luar negeri, tapi juga berdaya saing tinggi untuk memasuki universitas-universitas ilmu-ilmu alam dan sosial di dalam dan luar negeri. Ini memang butuh perjuangan sungguh-sungguh para pengelola pondok dan dukungan optimal para orang tua santri.

***

Lalu ada apa dengan pendidikan anak perempuan di pondok? Ternyata yang mencuat dalam obrolan adalah masalah akhlak dan masalah kebetahan mereka di pondok.

Kami agak kaget dengan "perubahan" perilaku anak-anak gadis kami yang dalam beberapa hal tidak seperti yang kami harapkan. Dalam masalah ketaatan beribadah, anak-anak ternyata tidak "sehebat" ketika mereka di pondok. Dalam masalah kesopanan, kadang terlihat mereka agak cuek terhadap orang tua. Tidak jarang mereka terlibat semacam pertengkaran kecil dengan ibu mereka. Dalam pola komunikasi (lewat telepon, sms dll), mereka gunakan bahasa-bahasa gaul. Mereka juga ngobrol tentang lawan jenis, meskipun sepertinya mereka hati-hati sekali ngobrol tentang ini di depan orang tua. Dan satu lagi, terkadang mereka merasa "terbuang" dengan menjadi santri pondok. Apalagi ketika mereka mendapati keluarga besar mereka dari pihak ayah dan ibu (seperti nenek, tante, dll), kebanyakan mempertanyakan kenapa mereka mesti mondok. Walaupun pertanyaan-pertanyaan keluarga besar ini didasarkan pada rasa sayang, tapi buat seorang anak hal ini membuat bimbang, apakah mereka betul-betul di-support oleh saudara-saudara mereka?

Pada paragraf di atas, sengaja saya beri tanda kuot pada kata perubahan, sebab bisa jadi kami lah yang memang tidak intensif mengikuti perubahan mereka. Dan memang inilah yang sementara ini kami simpulkan.

Kami mesti menyadari bahwa anak-anak kami sedang mengikuti proses pendidikan yang unik pada zamannya. Mereka memang "berbeda" dengan remaja pada umumnya yang mengalami pergaulan relatif bebas dengan lawan jenis atau bahkan berpacaran, tidak dibebani berbagai pelajaran keagamaan intensif seperti hafalan Quran, bahasa Arab, aqidah dll, bebas punya hand-phone -oh ini baru kami sadari merupakan masalah penting buat anak pondok yang memang enggak boleh pegang hand-phone, karena alasan yang bisa kami terima-, bisa santai memelototi tayangan-tayangan teve seperti acara musik, infotainment alias gosip-gosip selebritis dll ... dll.

Kami mesti menyadari bahwa mereka berada pada masa pubertas. Mereka sedang mencari jatidiri, misalnya yang cukup dominan melalui kesan kepada/dari lawan jenis. Mereka menduga-duga ... hmm asyiknya kalau aku bebas hidup seperti mereka-mereka yang tidak di pondok. Mereka memang tidak merasakan itu, maka mereka tidak tahu apa untung ruginya berada dalam dunia yang tidak mereka kenal.

Lalu bagaimana kami mesti bersikap? Saya sendiri menawarkan pola komunikasi sebagai teman dengan mereka. Sebagai orang tua, kami mesti mau nonton bareng sinetron-sinetron SMA di teve (meskipun terus terang kami susah untuk berapresiasi dengan tayanga-tayangan itu). Sesekali lihat tayangan infotainment. Kalau anak kita senang baca novel "teenlit", tak apalah kita ikuti kemauannya. Istri saya pernah bilang, biarlah anak kami mengeksplorasi kehidupan luar pondok lewat bacaan-bacaannya. Yang penting kami bisa terus berdialog dengannya dan menyampaikan nilai-nilai kebenaran dalam bahasa yang bisa diterima dan dicerna anak remaja.

Saya pernah sarankan anak kami agar dia membaca-baca tentang peri kehidupan sahabat Nabi. Anak kami menjawab, bahwa di pondok itu jadi pelajaran. Para santri malah membaca langsung kitab Hayatush Shahabah. Malahan sifat-sifat fisik para shahabat pun dipelajari hingga detil-detilnya. Mendengar hal itu, saya bisa maklumi kalau di masa-masa liburan anak kami ingin suasana bacaan yang berbeda.

Saya memang berharap banyak kepada istri agar bisa memandu perkembangan anak kami yang menginjak usia remaja ini. Peran sebagai ibu mesti diperkaya juga dengan peran sebagai sahabat. Pada beberapa kesempatan saya dan istri bercerita pengalaman melewati masa-masa remaja dulu. Anak kami nampaknya menikmati cerita-cerita itu. Dia bisa tertawa lepas dan terlibat dalam obrolan. Sejauh ini lewat peran sebagai sahabatlah obrolan-obrolan menyangkut kepribadian dan jatidiri bisa mengalir lumayan lancar.

***

Masih ada PR kami sebagai orang tua. Terus berdialog dengan para pengasuh pondok. Kami jelas tidak boleh "melepas tanggung jawab" pendidikan anak kepada pihak pondok. Bagaimanapun pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua. Yang kami lakukan adalah memberi mandat kepada para ustadz dan ustadzah untuk mendidikan mereka pada bagian-bagian yang memang kami sendiri tak mampu memberikannya. Artinya kami mesti terus berkomunikasi intensif dan secara berkala bertemu dengan anak-anak untuk melengkapi kebutuhan pendidikan mereka.

Kami mesti terus berdialog dengan anak-anak, terus membina keyakinan bersama, bahwa pilihan sekolah di pondok itu adalah sebuah pilihan yang diambil secara sadar. Kami juga mesti meyakinkan diri, bahwa kualitas pendidikan di pondok akan melahirkan manusia-manusia berkualitas, siap untuk melanjutkan pendidikan berkualitas pada jenjang yang lebih tinggi dan berdarma bakti bagi masyarakat.

Dan permasalahan anak-anak remaja perempuan kami adalah permasalahan alami pada manusia di masa remaja, di masa pubertas, di masa awal menuju kedewasaan mereka. Kami mesti terus memandu mereka, agar terbangun identitas diri yang kokoh. Agar mereka melangkah mantap menyongsong masa depan mereka.

Dan hanya kepada Allah lah, kami para orang tua, mesti memohon pertolongan dan petunjuk dalam mendidik anak-anak kami. Kami pun sadar banyak sekali kekurangan dan kekeliruan kami dalam mengambil keputusan dan bersikap pada pendidikan anak-anak kami. Karenanya kami memohon ampunan kepada Allah untuk semua kesalahan kami. Semoga Dia Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, mengganti kesalahan kami dalam bentuk bimbingan langsung kepada anak-anak kami. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Itulah sekelumit obrolan kami, para ayah, tentang pendidikan putri-putri kami. Ini tentu hanya satu potret sosial, pada lingkungan sosial tertentu pula. Tapi saya yakin seorang ayah pasti akan mengalami masa-masa lumayan pelik dalam berinteraksi dengan anak-anak perempuannya, terutama di masa remaja. Semoga tulisan ini menjadi sharing yang bemanfaat.

Bogor, 5 Juni 2008,
Adi Junjunan Mustafa

No comments: